Film 3G production
HANDAYANI HUTAPEA - 21040110120047
i'm Planner, how about you?
Minggu, 19 Juni 2011
Sabtu, 18 Juni 2011
Teknik Komunikasi
Komunkasi adalah suatu pernyataan yang dilakukan oleh kepada orang lain sebagai konsekuensi dari hubungan sosal.
dalam berkomunikasi tentu ditemukan hambatan diantaranya :
dalam berkomunikasi tentu ditemukan hambatan diantaranya :
- perbedaan bahasa dan presepsi
- faktor sosial dan budaya
- salah mengarahkan
- terlalu banyak informasi
- faktor lingkungan
Review Tugas
Tugas besar tekkom kelompok kami memilih tema tentang wisata budaya tentang tradisi rambut gimbal di candi dieng,wonosobo.
BLOG
sonia ahlinya neh..liat aja web kelompok kami di www.3gproduction.blogspot.com
kesulitan dalam menyelesaikan tugas ini adalah semuanya :)
FILM
disini kami melakukan syuting, dengan cerita tentang si petualang bolang-baling yang penasaran dengan adanya kisah tentang rambut gimbal.POSTER
saya dan Viyona mengalami kesulitan dalam mendesain poster. tetapi,karena kami kurang mempunyai jiwa seni,poster kami (tentunya dibantu sama teman bernama Harrys{teman Vio} dan alextron )kurang menarik :(BLOG
sonia ahlinya neh..liat aja web kelompok kami di www.3gproduction.blogspot.com
kesulitan dalam menyelesaikan tugas ini adalah semuanya :)
saran untuk matkul tekkom apa yaa....ga ada saran seh,abisnya udah cukup bagus seh :)
apalagi ga ada UTS dan UAs nya
Lembah Baliem, Wamena
Wisata Budaya Lembah Baliem, Papua
Lembah Baliem , yang terletak di kabupaten Jayawaijaya, provinsi Papua, merupakan salah satu kawasan yang memiliki daya tarik bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Lembah Baliem berada di ketinggian 1600 meter dari permukaan laut yang dikelilingi pegunungan dengan pemandangannya yang indah dan masih alami. Satu hal yang membuat Lembah Baliem terkenal adalah diselenggarakan nya Festival Budaya Lembah Baliem, atau yang lebih dikenal dengan nama Festival Lembah Baliem.
Lembah ini dikenal juga sebagai grand baliem valley merupakan tempat tinggal suku Dani yang terletak di Desa Wosilimo, 27 km dari Wamimena, Papua. Selain suku Dani beberapa suku lainnya hidup bertetangga di lembah ini yakni suku Yali dan suku Lani.
Festival Lembah Baliem sudah dilaksanakan sejak 15 tahun yang lalu. Awalnya festival ini diadakan untuk menyalurkan adat perang antarsuku di Papua yang mereka lakukan untuk merebut lahan, binatang, penculikan warga, pembunuh anak warga, penyerbuan ladang yang baru dibuka, sampai perebutan perempuan. Contohnya yang diperagakan berbagai desa penyerbuan pun dilakukan. Sementara lawan, yang biasanya sudah tahu, akan bertahan. Jadilah pertempuran terjadi di tengah lapang luas. Tidak sedikit korban yang berjatuhan akibat perang antarsuku ini. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya menjadikan perang antarsuku ini sebuah festival yang menjadi daya tarik wisatawan. Selama Festival berlangsung, wisatawan dapat menikmati atraksi melempar tombak dan memanah dengan menggunakan kostum khasnya yaitu koteka atau horim sebagai penutup alat kelamin laki-laki.
Kaum wanitanya mengenakan rotali yaitu rok yang terbuat dari tali atau rumput. Mereka juga menghias tubuhnya dengan berbagai motif yang unik. Puncak Festival Lembah Baliem berupa pertempuran antarsuku-suku dengan saling melempar tombak diiringi jeritan-jeritan khas suku Dani lengkap dengan tarian-tarian perangnya. Suku Dani terbiasa berperang untuk mempertahankan desa mereka atau untuk membalas dendam bagi anggota suku yang tewas. Para ahli antropologi menjelaskan bahwa "perang suku Dani" lebih merupakan tampilan kehebatan dan kemewahan pakaian dengan dekorasinya daripada perang untuk membunuh musuh. Perang bagi Suku Dani lebih menampilkan kompetensi dan antusiasme daripada keinginan untuk membunuh. Senjata yang digunakan adalah tombak panjang berukuran 4,5 meter, busur, dan anak panah. Seringkali, karena perang orang terluka daripada terbunuh, dan yang terluka dengan cepat dibawa keluar arena perang. Kini, perang suku Dani diadakan setiap tahun di Festival Bukit Baliem di Wamena selama bulan Agustus. Dalam pesta ini, yang menjadi puncak acara adalah pertempuran antara suku Dani, Yali, dan Lani saat mereka mengirim prajurit terbaiknya ke arena perang mengenakan tanda-tanda kebesaran terbaik mereka. Festival ini dimeriahkan dengan Pesta Babi yang dimasak di bawah tanah disertai musik dan tari tradisional khas Papua. Ada juga seni dan kerajinan buatan tangan yang dipamerkan atau untuk dijual. Setiap suku memiliki identitasnya masing-masing dan orang dapat melihat perbedaan yang jelas di antara mereka sesuai dengan kostum dan koteka mereka.
Pria suku Dani biasanya hanya memakai koteka kecil, sedangkan pria suku Lani mengenakan koteka lebih besar, karena tubuh mereka lebih besar daripada rata-rata pria suku Dani. Sedangkan pria suku Yali memakai koteka panjang dan ramping yang diikatkan oleh sabuk rotan dan diikat di pinggang. Dengan menghadiri Festival Lembah Baliem maka Anda akan memiliki kesempatan langka untuk belajar dan bersentuhan langsung dengan beragam tradisi suku-suku setempat yang berbeda-beda tanpa harus mengunjunginya ke pedalaman Papua Barat yang jauh dan berat. Diperkirakan festival ini diikuti oleh lebih dari 40 suku lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah mereka.
Setelah puas menikmati atraksi dari festival wisatawan dapat meikmati makanan khas Papua dan melihat rumah adat mereka, Hanoi. Suku-suku di suku Papua meski mengalami modernisasi tetapi masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi mereka. Salah satu yang paling menonjol adalah pakaian pria suku Dani yang hanya mengenakan penutup kemaluan atau disebut koteka. Koteka terbuat dari kulit labu air yang dikeringkan dan dilengkapi dengan penutup kepala yang terbuat dari bulu cendrawasih atau kasuari, sedangkan para wanita suku Dani mengenakan rok yang terbuat dari rumput atau serat pakis yang disebut sali. Saat membawa babi atau hasil panen ubi, para wanita membawanya dengan tas tali atau noken yang diikatkan pada kepala mereka.
Untuk menikmati festival ini wisatawan harus merogoh uang cukup besar sekitar Rp 7 juta-an per orang karena akses menuju Lembah Baliem hanya bisa dilewati dengan naik pesawat. Dengan pengeluaran itu wisatawan akan dipuaskan pemandangan Lembah Baliem yang sangat indah dan melihat sisi lain dari keanekaragaman suku yang ada di Papua dengan keunikan budayanya.
Sumber :
Des, Christy. 2011. Festival Budaya Lembah Baliem. http://giraffesays.blogspot.com. Senin, 4 April 2011
Fjsr. 2010. Festival Wisata Lembah Baliem untuk Promosikan Pariwisata Papua. http://wisatapapua.wordpress.com. Senin, 4 April 2011
Yohanes, Gilbert. 2011. Lembah Baliem – Papua. http://wisatamelayu.com/id. Jumat 1 Maret 2011.
Lembah Baliem , yang terletak di kabupaten Jayawaijaya, provinsi Papua, merupakan salah satu kawasan yang memiliki daya tarik bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Lembah Baliem berada di ketinggian 1600 meter dari permukaan laut yang dikelilingi pegunungan dengan pemandangannya yang indah dan masih alami. Satu hal yang membuat Lembah Baliem terkenal adalah diselenggarakan nya Festival Budaya Lembah Baliem, atau yang lebih dikenal dengan nama Festival Lembah Baliem.
Lembah ini dikenal juga sebagai grand baliem valley merupakan tempat tinggal suku Dani yang terletak di Desa Wosilimo, 27 km dari Wamimena, Papua. Selain suku Dani beberapa suku lainnya hidup bertetangga di lembah ini yakni suku Yali dan suku Lani.
Festival Lembah Baliem sudah dilaksanakan sejak 15 tahun yang lalu. Awalnya festival ini diadakan untuk menyalurkan adat perang antarsuku di Papua yang mereka lakukan untuk merebut lahan, binatang, penculikan warga, pembunuh anak warga, penyerbuan ladang yang baru dibuka, sampai perebutan perempuan. Contohnya yang diperagakan berbagai desa penyerbuan pun dilakukan. Sementara lawan, yang biasanya sudah tahu, akan bertahan. Jadilah pertempuran terjadi di tengah lapang luas. Tidak sedikit korban yang berjatuhan akibat perang antarsuku ini. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya menjadikan perang antarsuku ini sebuah festival yang menjadi daya tarik wisatawan. Selama Festival berlangsung, wisatawan dapat menikmati atraksi melempar tombak dan memanah dengan menggunakan kostum khasnya yaitu koteka atau horim sebagai penutup alat kelamin laki-laki.
Kaum wanitanya mengenakan rotali yaitu rok yang terbuat dari tali atau rumput. Mereka juga menghias tubuhnya dengan berbagai motif yang unik. Puncak Festival Lembah Baliem berupa pertempuran antarsuku-suku dengan saling melempar tombak diiringi jeritan-jeritan khas suku Dani lengkap dengan tarian-tarian perangnya. Suku Dani terbiasa berperang untuk mempertahankan desa mereka atau untuk membalas dendam bagi anggota suku yang tewas. Para ahli antropologi menjelaskan bahwa "perang suku Dani" lebih merupakan tampilan kehebatan dan kemewahan pakaian dengan dekorasinya daripada perang untuk membunuh musuh. Perang bagi Suku Dani lebih menampilkan kompetensi dan antusiasme daripada keinginan untuk membunuh. Senjata yang digunakan adalah tombak panjang berukuran 4,5 meter, busur, dan anak panah. Seringkali, karena perang orang terluka daripada terbunuh, dan yang terluka dengan cepat dibawa keluar arena perang. Kini, perang suku Dani diadakan setiap tahun di Festival Bukit Baliem di Wamena selama bulan Agustus. Dalam pesta ini, yang menjadi puncak acara adalah pertempuran antara suku Dani, Yali, dan Lani saat mereka mengirim prajurit terbaiknya ke arena perang mengenakan tanda-tanda kebesaran terbaik mereka. Festival ini dimeriahkan dengan Pesta Babi yang dimasak di bawah tanah disertai musik dan tari tradisional khas Papua. Ada juga seni dan kerajinan buatan tangan yang dipamerkan atau untuk dijual. Setiap suku memiliki identitasnya masing-masing dan orang dapat melihat perbedaan yang jelas di antara mereka sesuai dengan kostum dan koteka mereka.
Pria suku Dani biasanya hanya memakai koteka kecil, sedangkan pria suku Lani mengenakan koteka lebih besar, karena tubuh mereka lebih besar daripada rata-rata pria suku Dani. Sedangkan pria suku Yali memakai koteka panjang dan ramping yang diikatkan oleh sabuk rotan dan diikat di pinggang. Dengan menghadiri Festival Lembah Baliem maka Anda akan memiliki kesempatan langka untuk belajar dan bersentuhan langsung dengan beragam tradisi suku-suku setempat yang berbeda-beda tanpa harus mengunjunginya ke pedalaman Papua Barat yang jauh dan berat. Diperkirakan festival ini diikuti oleh lebih dari 40 suku lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah mereka.
Setelah puas menikmati atraksi dari festival wisatawan dapat meikmati makanan khas Papua dan melihat rumah adat mereka, Hanoi. Suku-suku di suku Papua meski mengalami modernisasi tetapi masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi mereka. Salah satu yang paling menonjol adalah pakaian pria suku Dani yang hanya mengenakan penutup kemaluan atau disebut koteka. Koteka terbuat dari kulit labu air yang dikeringkan dan dilengkapi dengan penutup kepala yang terbuat dari bulu cendrawasih atau kasuari, sedangkan para wanita suku Dani mengenakan rok yang terbuat dari rumput atau serat pakis yang disebut sali. Saat membawa babi atau hasil panen ubi, para wanita membawanya dengan tas tali atau noken yang diikatkan pada kepala mereka.
Untuk menikmati festival ini wisatawan harus merogoh uang cukup besar sekitar Rp 7 juta-an per orang karena akses menuju Lembah Baliem hanya bisa dilewati dengan naik pesawat. Dengan pengeluaran itu wisatawan akan dipuaskan pemandangan Lembah Baliem yang sangat indah dan melihat sisi lain dari keanekaragaman suku yang ada di Papua dengan keunikan budayanya.
Sumber :
Des, Christy. 2011. Festival Budaya Lembah Baliem. http://giraffesays.blogspot.com. Senin, 4 April 2011
Fjsr. 2010. Festival Wisata Lembah Baliem untuk Promosikan Pariwisata Papua. http://wisatapapua.wordpress.com. Senin, 4 April 2011
Yohanes, Gilbert. 2011. Lembah Baliem – Papua. http://wisatamelayu.com/id. Jumat 1 Maret 2011.
Senin, 13 Juni 2011
amatiran
tujuan saya membuat blog ini hanya untuk menyalurkan keisengan saya dlam merangkai kata- kata :)
Jumat, 10 Juni 2011
amatiran
tujuan saya membuat blog ini hanya untuk menyalurkan keisengan saya dlam merangkai kata- kata :)
Langganan:
Postingan (Atom)
